Ciri
Lain Imunitas Terhadap Malaria
1. Imunitas Terhadap
Malaria Timbul Lambat
Imunitas protektif terhadap infeksi
plasmodium yang menyebabkan malaria timbulnya lambat, sehingga baru didapat
setelah dewasa dan setelah terinfeksi plasmodium berulang-ulang, karena itu
hanya diperoleh pada penduduk di daerah endemis stabil yang hampir setiap hari
terpapar dengan parasit plasmodium. Dengan derajat pemaparan yang sama,
imunitas timbul lebih cepat pada orang dewasa di bandingkan anak-anak.
Lambatnya respon imun tersebut diakibatkan adanya mekanisme “tirai asap
imunologis” (immunological smokescreen)
atau karena banyaknya strain-strain parasit dengan keanekaragaman antigeniknya,
karenanya seseorang baru imun setelah terpapar dan selanjutnya terbentuk
imunitas spesifik dengan seluruh strain plasmodium yang ada di daerah
tersebut. Namun berdasarkan hasil
penelitian ternyata tidak terdapat data yang dapat membuktikan kebenaran
pendapat tersebut, karena imunitas spesifik terhadap plasmodium pada orang
dewasa dapat terbentuk dengan cepat hanya sekitar 2 tahun setelah tiba di
daerah endemis dan terbentuknya tidak ditentukan oleh banyaknya pemaparan
dengan parasit tetapi lebih ditentukan oleh usia dan kematangan sistem imun
seseorang
2. Imunitas Hanya Jangka
Pendek (short lived)
Imunitas pada infeksi plasmodium
memberikan perlindungan untuk jangka pendek saja. Hal ini terbukti pada
penduduk daerah endemis yang sudah kehilangan kekebalannya setelah meninggalkan
daerahnya selama 3-6 bulan saja. Penyebabnya belum diketahui, mungkin berkaitan
dengan jenis antibodi protektif yang dominan pada malaria yaitu antibodi anti
MSP-2 adalah subklas IgG3 yang memiliki waktu paruh paling pendek disebanding
subklas lainnya. Hal ini tidak lazim dibandingkan dengan penyakit infeksi
lainnya yang umumnya dominan subklas IgG2. Hipotesa lain menyatakan imunitas
spesifik pada malaria tidak dapat bertahan lama karena limfosit T CD8+ yang
sudah teraktifkan dan berfungsi membasmi parasit di dalam hepar akan segera
dimusnahkan melalui proses apoptosis Fas/FasL, berhubung adanya fungsi
imunotoleran lokal di hepar. Mungkin pula karena cepatnya permusuhan limfosit T
aktif di hepar, hingga sel T memori tidak sempat terbentuk
3. Ciri Imunitas Pada
Penduduk Daerah Endemis
Penduduk daerah endemis stabil
mendapatkan infeksi plasmodium secara terus menerus dan berat sepanjang tahun,
namun di daerah tersebut jarang ditemukan bayi yang terinfeksi karena bayi
tersebut memperoleh kekebalan alami melalui transfer antibodi transplasental
dari ibunya. Selain itu, darah bayi juga masih banyak mengandung hemoglobin F
yang kurang menguntungkan bagi bagi pertumbuhan parasit plasmodium. Setelah itu
anak akan sangat peka terhadap infeksi dan mudah timbul malaria berat hingga
banyak menimbulkan kematian. Sesudahnya, infeksi akan berlangsung lebih ringan
karena telah terbentuk imunitas seperti imunitas antiparasit (imunitas yang
mampu menekan pertumbuhan parasit dalam derajat sangat ringan namun tidak
sampai nol hingga mencegah terjadiny hiperparasitemia dan mulai berkembang
sejak berusia 5 tahun sampai dewasa) dan antitoksik.
Antitoksis ”Anti disease imunity” yaitu bentuk imunitas yang mampu mencegah
terjadinya gejala penyakit tanpa ada pengaruh terhadap jumlah parasit.
Mekanisme yang berperan pada imunitas ini belum jelas, diduga karena adanya
antibodi IgG dan IgM yang dapat menetralkan atau mencegah plasmodium
menghasilkan toksi-toksin yang dapat menginduksi TNF yang berlebihan. Mekanisme
lain yang berkaitan dengan antibodi akan mencegah rangsangan untuk pengeluaran
TNF dalam jumlah besar. Bentuk imunitas ini mungkin pula berkaitan dengan
kemampuan system imun untuk mengatur sekresi sitokin dalam jumlah yang tepat
bila terpapar dengan toksin/antigen. Imunitas ini dapat menetralkan
toksin-toksin yang dihasilkan parasit dengan tidak memberkan efek yang
merugikan bagi tubuh. Contoh bentuk imunitas ini adalah imunitas antitoksik
yaitu bentuk imunitas yang mampu menekan toksik dari produk plasmodium hingga
tidak timbul gejala klinis malaria berat meskipun pada penderita parasit dalam
jumlah besar. Imunitas ini umumnya terdapat pada anak-anak usia muda penduduk
daerah endemic stabil yang berumur kurang dari 5 tahun, dengan gejala utama
pada anak usia muda di daerah endemis stabil adalah anemia berat.
Premunisi (premonition) adalah keadaan semi-imun dimana respon imun mampu selalu
menekan pertumbuhan parasit dalam jumlah rendah namun tidak sampai nol,
mencegah hiperparasitemia dan menekan virulensi parasit, hingga penderita tidak
bergejala/sakit. Imunitas ini meliputi baik “anti-parasitic imunity” maupun “anti-disease
imunity”. Mekanisme terbentuknya premunisi ini belum jelas, hipotesa dari
Druilhe dan Perignon menduga imunitas ini timbul karena antibodi IgG1 atau IgG3
terhadap MSP-3 yang berikatan dengan reseptor FcγR II pada monosit akan
melepaskan beberapa mediator terlarut terutama TNF-α yang mampu menghambat
pertumbuhan parasit intraeritrosit, reaksi ini mutlak membutuhkan ikatan dengan
merozoit ekstraeritrosit (antibody
dependent monocyte indirect response/antibody dependent cellular
inhibition/ADCI). Setelah pertumbuhan skizon dihambat dan tak
ada lagi merozoit yang dikeluarkan maka monosit menjadi tidak aktif. Tanpa
adanya ikatan dengan merozoit seperti yang terjadi pada keadaan parasitemia
yang rendah, baik antibody maupun monosit inaktif, namun bila kemudian jumlah
merozoit meningkat kembali maka reaksi di atas kembali aktif. Jumlah merozoit
minimal yang dibutuhkan untuk mencetuskan reaksi perkiraan antara 1 sampai 2
parasit/106 eritrosit atau 5-10 parasit/uL darah.
Imunitas di atas terbentuk karena
penduduk yang tinggal di daerah endemis mendapat pemaparan dengan parasit terus-menerus
sejak lahir hingga sistem imun dipacu dan diperkuat (bosster) secara berkesinambungan. Akibatnya didapatkan kadar
perlindungan baik imunitas seluler maupun humoral yang memadai. Imunitas ini
akan hilang bila penderita lama meningalkan daerah endemis, hingga jika kelak
ia kembali ke daerah asalnya dan terinfeksi maka dapat menjadi sakit karena itu
disimpulkan bahwa imunitas terhadap malaria tidak permanen
4. Imunitas Pada Penduduk
Daerah Non-endemis
Untuk penduduk yang tinggal di
daerah non-endemis dimana derajat penularan rendah, jarang atau musiman, maka
mekanisme perlindungan seperti di daearh endemis di atas tidak terjadi. Umumnya
akan timbul gejala klinis yang berat jika terinfeksi, banyak kasus malaria
serebral pada semua umur. Demikian pula bagi orang yang baru tiba di daerah
endemis (non-imun).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar