Senin, 28 September 2015

Ciri Lain Imunitas Terhadap Malaria



 Ciri Lain Imunitas Terhadap Malaria
1.      Imunitas Terhadap Malaria Timbul Lambat
            Imunitas protektif terhadap infeksi plasmodium yang menyebabkan malaria timbulnya lambat, sehingga baru didapat setelah dewasa dan setelah terinfeksi plasmodium berulang-ulang, karena itu hanya diperoleh pada penduduk di daerah endemis stabil yang hampir setiap hari terpapar dengan parasit plasmodium. Dengan derajat pemaparan yang sama, imunitas timbul lebih cepat pada orang dewasa di bandingkan anak-anak. Lambatnya respon imun tersebut diakibatkan adanya mekanisme “tirai asap imunologis” (immunological smokescreen) atau karena banyaknya strain-strain parasit dengan keanekaragaman antigeniknya, karenanya seseorang baru imun setelah terpapar dan selanjutnya terbentuk imunitas spesifik dengan seluruh strain plasmodium yang ada di daerah tersebut.  Namun berdasarkan hasil penelitian ternyata tidak terdapat data yang dapat membuktikan kebenaran pendapat tersebut, karena imunitas spesifik terhadap plasmodium pada orang dewasa dapat terbentuk dengan cepat hanya sekitar 2 tahun setelah tiba di daerah endemis dan terbentuknya tidak ditentukan oleh banyaknya pemaparan dengan parasit tetapi lebih ditentukan oleh usia dan kematangan sistem imun seseorang
2.      Imunitas Hanya Jangka Pendek (short lived)
            Imunitas pada infeksi plasmodium memberikan perlindungan untuk jangka pendek saja. Hal ini terbukti pada penduduk daerah endemis yang sudah kehilangan kekebalannya setelah meninggalkan daerahnya selama 3-6 bulan saja. Penyebabnya belum diketahui, mungkin berkaitan dengan jenis antibodi protektif yang dominan pada malaria yaitu antibodi anti MSP-2 adalah subklas IgG3 yang memiliki waktu paruh paling pendek disebanding subklas lainnya. Hal ini tidak lazim dibandingkan dengan penyakit infeksi lainnya yang umumnya dominan subklas IgG2. Hipotesa lain menyatakan imunitas spesifik pada malaria tidak dapat bertahan lama karena limfosit T CD8+ yang sudah teraktifkan dan berfungsi membasmi parasit di dalam hepar akan segera dimusnahkan melalui proses apoptosis Fas/FasL, berhubung adanya fungsi imunotoleran lokal di hepar. Mungkin pula karena cepatnya permusuhan limfosit T aktif di hepar, hingga sel T memori tidak sempat terbentuk
3.      Ciri Imunitas Pada Penduduk Daerah Endemis
            Penduduk daerah endemis stabil mendapatkan infeksi plasmodium secara terus menerus dan berat sepanjang tahun, namun di daerah tersebut jarang ditemukan bayi yang terinfeksi karena bayi tersebut memperoleh kekebalan alami melalui transfer antibodi transplasental dari ibunya. Selain itu, darah bayi juga masih banyak mengandung hemoglobin F yang kurang menguntungkan bagi bagi pertumbuhan parasit plasmodium. Setelah itu anak akan sangat peka terhadap infeksi dan mudah timbul malaria berat hingga banyak menimbulkan kematian. Sesudahnya, infeksi akan berlangsung lebih ringan karena telah terbentuk imunitas seperti imunitas antiparasit (imunitas yang mampu menekan pertumbuhan parasit dalam derajat sangat ringan namun tidak sampai nol hingga mencegah terjadiny hiperparasitemia dan mulai berkembang sejak berusia 5 tahun sampai dewasa) dan antitoksik.
            Antitoksis ”Anti disease imunity” yaitu bentuk imunitas yang mampu mencegah terjadinya gejala penyakit tanpa ada pengaruh terhadap jumlah parasit. Mekanisme yang berperan pada imunitas ini belum jelas, diduga karena adanya antibodi IgG dan IgM yang dapat menetralkan atau mencegah plasmodium menghasilkan toksi-toksin yang dapat menginduksi TNF yang berlebihan. Mekanisme lain yang berkaitan dengan antibodi akan mencegah rangsangan untuk pengeluaran TNF dalam jumlah besar. Bentuk imunitas ini mungkin pula berkaitan dengan kemampuan system imun untuk mengatur sekresi sitokin dalam jumlah yang tepat bila terpapar dengan toksin/antigen. Imunitas ini dapat menetralkan toksin-toksin yang dihasilkan parasit dengan tidak memberkan efek yang merugikan bagi tubuh. Contoh bentuk imunitas ini adalah imunitas antitoksik yaitu bentuk imunitas yang mampu menekan toksik dari produk plasmodium hingga tidak timbul gejala klinis malaria berat meskipun pada penderita parasit dalam jumlah besar. Imunitas ini umumnya terdapat pada anak-anak usia muda penduduk daerah endemic stabil yang berumur kurang dari 5 tahun, dengan gejala utama pada anak usia muda di daerah endemis stabil adalah anemia berat.
            Premunisi (premonition) adalah keadaan semi-imun dimana respon imun mampu selalu menekan pertumbuhan parasit dalam jumlah rendah namun tidak sampai nol, mencegah hiperparasitemia dan menekan virulensi parasit, hingga penderita tidak bergejala/sakit. Imunitas ini meliputi baik “anti-parasitic imunity” maupun “anti-disease imunity”. Mekanisme terbentuknya premunisi ini belum jelas, hipotesa dari Druilhe dan Perignon menduga imunitas ini timbul karena antibodi IgG1 atau IgG3 terhadap MSP-3 yang berikatan dengan reseptor FcγR II pada monosit akan melepaskan beberapa mediator terlarut terutama TNF-α yang mampu menghambat pertumbuhan parasit intraeritrosit, reaksi ini mutlak membutuhkan ikatan dengan merozoit ekstraeritrosit (antibody dependent monocyte indirect response/antibody dependent cellular inhibition/ADCI). Setelah pertumbuhan skizon dihambat dan tak ada lagi merozoit yang dikeluarkan maka monosit menjadi tidak aktif. Tanpa adanya ikatan dengan merozoit seperti yang terjadi pada keadaan parasitemia yang rendah, baik antibody maupun monosit inaktif, namun bila kemudian jumlah merozoit meningkat kembali maka reaksi di atas kembali aktif. Jumlah merozoit minimal yang dibutuhkan untuk mencetuskan reaksi perkiraan antara 1 sampai 2 parasit/106 eritrosit atau 5-10 parasit/uL darah.
            Imunitas di atas terbentuk karena penduduk yang tinggal di daerah endemis mendapat pemaparan dengan parasit terus-menerus sejak lahir hingga sistem imun dipacu dan diperkuat (bosster) secara berkesinambungan. Akibatnya didapatkan kadar perlindungan baik imunitas seluler maupun humoral yang memadai. Imunitas ini akan hilang bila penderita lama meningalkan daerah endemis, hingga jika kelak ia kembali ke daerah asalnya dan terinfeksi maka dapat menjadi sakit karena itu disimpulkan bahwa imunitas terhadap malaria tidak permanen
4.      Imunitas Pada Penduduk Daerah Non-endemis
            Untuk penduduk yang tinggal di daerah non-endemis dimana derajat penularan rendah, jarang atau musiman, maka mekanisme perlindungan seperti di daearh endemis di atas tidak terjadi. Umumnya akan timbul gejala klinis yang berat jika terinfeksi, banyak kasus malaria serebral pada semua umur. Demikian pula bagi orang yang baru tiba di daerah endemis (non-imun).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar