Senin, 28 September 2015

Sistem Imunitas Pada Penyakit alaria



Sistem Imunitas Pada Malaria
Terjadinya penyakit akan menimbulkan respons imun dari hospes yaitu dengan adanya reaksi radang, hal tersebut bergantung pada derajat infeksinya. Terjadinya relaps dan timbulnya penyakit erat hubungannya dengan rendahnya titer antibodi atau peningkatan kemampuan parasit melawan antibodi tersebut. Gejala pada waktu relaps biasanya kurang berbahaya dari pada saat terjadi serangan pertama kali, tetapi tingkat parasitemiannya tinggi setelah serangan pertama dan diantara periode relaps, biasanya pasien mempunyai toleransi terhadap organisme, hal itu terlihat pada saat tingkat toleransi tinggi jumlah parasit dalam darah cukup tinggi seperti pada serangan awal.

Infeksi plasmodium dimulai ketika nyamuk Anopheles betina menginokulasikan plasmodial sporozoit saat menghisap darah manusia. Sporozoit ini kadang bermigrasi melewati kulit untuk membuat kontak dengan pembuluh darah kemudian melintasi endothelium untuk masuk ke dalam aliran darah. Jika sporozoit bermigrasi melewati kulit maka akan terjadi proses netralisasi sporozoit, yaitu antibodi yang terdapat pada kulit akan mengikat protein permukaan sporozoit khususnya protein Circum Sporozoite (CSP) sehingga sporozoit tidak bisa masuk ke dalam aliran darah. Namun seringkali sporozoit langsung masuk ke dalam pembuluh darah tanpa melewati kulit dan sering disebut dengan infeksi sistemik. Jika hal ini terjadi maka plasmodium akan berkembang lebih lanjut dan akan dimusnahkan oleh respon imun tubuh yang lebih komplek baik itu berupa sistem imun humoral maupun seluler yang timbul secara alami maupun  spesifik.
Sporozoit yang masuk dalam darah segera dihadapi oleh sistem imun tubuh baik itu berupa sistem imun nonspesifik maupun sistem imun spesifik.
Jenis-jenis respon imun yang muncul akibat infeksi plasmodium antara lain:    
1. Imunitas Alamiah (Innate immunity)
Innate immunity, atau sering disebut imunitas alamiah, merupakan mekanisme pertama yang akan terjadi saat infeksi berlangsung, terjadi secara cepat terhadap infeksi mikrobia, dan terjadi antara jam ke-0 sampai jam ke-12 infeksi.  Mekanisme tersebut melibatkan (1) penghalang fisik dan kimiawi, seperti epitel dan senyawa antimikrobia yang dihasilkan oleh sel epitel, (2) sel fagosit (neutrofil dan maktofag) dan sel natural killer, (3) protein darah, termasuk sistem komplemen dan mediator inflamasi lainnya, dan (4) protein sitokin yang mengatur sel-sel pada mekanisme ini.  Innate immunity terjadi karena tubuh dapat mengenali struktur mikroba yang masuk, bisa karena sebelumnya mikroba tersebut sudah pernah menginfeksi tubuh, atau karena struktur mikroba tersebut mirip seperti struktur mikroba lain yang pernah menginfeksi tubuh. Kelemahan dari mekanisme ini adalah tidak dapat mengenali struktur yang sama sekali baru menginfeksi tubuh. Untuk infeksi tersebut, adaptive immunity yang berperan.
Pertahanan atau imunitas alami ini bekerja setiap saat jika benda asing masuk ke dalam tubuh termasuk plasmodium. Imunitas alamiah terhadap plasmodium sebagian besar merupakan mekanisme nonimunologis berupa kelainan genetik pada eritrosit atau hemoglobin yang diduga sebagai mekanisme tanggapan alamiah dalam upaya memberikan perlindungan terhadap infeksi plasmodium. Perubahan pada permukaan eritrosit dapat mengganggu perlekatan dan invasi merazoit. Sedangkan perubahan dalam hemoglobin atau enzim intraseluler menggangu pertumbuhan dan multiplikasi plasmodium.
Kelainan genetik baik pada eritrosit maupun hemoglobin yang dapat menjadi sistem imun alamiah dapat dilihat pada beberapa kasus berikut ini
A.    Hemoglobin S (HbS/sickle cell trait). Adanya Hemoglobin S (HbS) pada penduduk Afrika yang cukup tinggi sehingga lebih rentan terhadap infeksi plasmodium karena HbS mampu menghambat perkembangbiakan plasmodium. Kelainan ini timbul karena pergantian asam amino valine dengan asam glutamate pada posisi 57 dari rantai hemoglobin. Bentuk heterozigot dapat mencegah timbulnya malaria berat, tetapi tidak melindungi dari infeksi. Mekanisme perlindungan dari HbS ini tidak diketahui secara jelas, namun diduga karena faktor-faktor berikut:
-    Eritrosit HbS yang terinfeksi parasit lebih mudah dirusak di sistem retikuloendhotelial
- Terjadi penghambatan pertumbuhan parasit akibat tekanan O2 intraeritrosit rendah dan perubahan kadar kalium intrasel. 
- Adanya akumulasi heme tertentu yang bersifat toksik terhadap parasit 
B.     Hb C merupakan kelainan yang banyak terjadi di Negara-negara Afrika Barat. Kelainan ini muncul akibat penggantian asam amino glutamate dengan lisisn pada posisi 6 rantai hemoglobin. Bentuk homozigot dapat menghambat pertumbuhan parasit diduga karena menghambat merozoit keluar dari eritrosit. Sering pula dijumpai kelainan gabungan Hb S dan Hb C (Hb SC)
C.    Hb E merupakan kelainan Hb yang paling umum dijumpai di dunia, banyak terdapat di Asia Tenggara. Disebabkan karena mutasi tunggal berupa pergantian asam amino glutamine menjadi lisin pada posisi 26 dari rantai globin. Mekanisme perlindungannya belum jelas, namun diduga karena eritrosit Hb E yang terinfeksi plasmodium lebih mudah difagositosis oleh sistem imun.
D.    Ovalositosis Hereditas. Ovalositosis Hereditas merupakan kelainan bentuk sitoskleton eritrosit yang diturunkan secara autosomal dominan ini memberikan perlindungan terhadap infeksi malaria. Mekanismenya karena membrane eritrosit ovalositosis yang kaku lebih tahan terhadap masuknya merazoit, selain itu lingkungan elektrolit intrasel dapat menghambat pertumbuhan plasmodium.
 Contoh Ovalositosis hereditas antara lain:
-  Eritrosit dengan Duffy antigen-negatif yang banyak ditemukan pada masyarakat di Afrika Barat (sekitar 90%) dan beberapa orang kulit hitam Amerika ternyata mampu mengkode protein untuk resistensi plasmodium yang mengakibatkan terjadinya kekurangan reseptor permukaan untuk invasi plasmodium sehingga insiden infeksi plasmodium menjadi rendah
-  Individu dengan Human leucocyte Antigen (HLA) terutama HLA kelas 1 Bw 53 lebih tahan terhadap infeksi plasmodium dan dapat mencegah terjadinya malaria berat. HLA yang terdapat pada permukaan hepatosit dapat mengikat antigen Liver stage specific Antigen-1 (LSA-1) dari sporozoit sehingga lebih mudah dikenali oleh limfosit  T sitotoksik CD8+ sehingga memudahkan pembasmian parasit
E.     Defisiensi Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase (G6PD). Resistensi terhadap plasmodium terlihat juga pada defisiensi Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase (G6PD) dan adanya sejumlah besar HbF. Kekebalan parsial terhadap infeksi plasmodium terlihat di daerah endemic bila terjadi kelainan HbC, kelainan HbE, β-thalasemia, dan defisiensi PK. Defisiensi G6PD ini merupakan penyakit genetik dengan manifestasi utama pada wanita. Sedangkan dengan adanya sejumlah besar HbF memungkinkan bayi pada tahun pertama kehidupannya relative kebal terhadap infeksi plasmodium. HbF ini merupakan kekebalan pasif dari antibodi ibunya dan akibat kekurangan Para Aminobenzoic acid (PABA) dalam diet.
F.     Thalasemia. Mekanismenya belum jelas, namun diduga karena:
-  Eritrosit penderita thalasemia yang terinfeksi plasmodium lebih banyak mengekspresikan antigen parasit di permukaan selnya yang akan mengikat antibodi sehingga memudahkan pembersihan oleh sistem imun.
-  Penderita thalasemia banyak mengandung Hb F yang kurang menyokong pertumbuhan parasit.
G.    Faktor genetik lain yang diduga berperan dan sedang diteliti mekanismenya dalam menghambat infeksi plasmodium adalah gen spektin, gen eritrosit band 3, glikoprotein A dan B, dan gen SM-1
2. Imunitas Non Spesifik (Non Adative/Innate Imunity)
Respon imun nonspesifik sangat penting dan menjadi efektor pertama dalam memberikan perlawanan terhadap infeksi plasmodium. Plasmodium yang masuk ke dalam darah segera dihadapi oleh sistem imun tubuh non spesifik, tujuannya adalah untuk mengeliminasi atau menghambat perkembangan plasmodium sehingga hospes tetap sehat. Mekanisme eliminasi ini berupa fagositosis yang dilakukan oleh sel-sel efektor (neutrofil, monosit dan makrofag), aktivasi sitokin, limpa, dan sel NK.
Tahap praerythrosit dimulai ketika nyamuk Anopheles betina menginokulasikan sporozoit ke dalam kulit atau langsung ke dalam aliran darah. Sporozoit yang masuk ke dalam darah merupakan antigen yang segera dikenali oleh makrofag dan sel B yang bertindak sebagai Antigen Presenting Cell (APC) yang kemudian tampak seperti benda asing pada sistem imun agar segera ditanggapi. Makrofag yang aktif karena paparan antigen plasmodium pada satu sisi memicu pengeluaran Interleukin (IL-2) untuk merangsang sel Natural Kiler (NK) guna menghasilkan IFNγ, aktivasi Sel T CD 4+ dan berbagai sitokin (seperti TNFα, IL-1, IL-2, IL-4, IL-6, IL-8, IL-10, IL-12). Mekanisme eliminasi yang berupa fagositosis dilakukan oleh sel-sel efektor antara lain:
a.           Makrofag dan monosit
Merupakan sel efektor penting dalam perlindungan terhadap malaria. Bekerja melalui beberapa cara yaitu fagositosis langsung terhadap plasmodium, mensekresi sitokin guna mengaktifkan makrofag lainnya, mensekresi interleukin-12 (IL-12) untuk merangsang sel natural killer (NK cell) untuk menghasilkan sitokin interferon-γ (IFN-γ), dan yang penting adalah sebagai sel penyaji antigen kepada limfosit T. Kemampuan fagositosis dan spesifitas makrofag dapat ditingkatkan oleh sitokin yang dihasilkan sel limposit T helper yaitu IFN-γ dan IL-2.
b.   Leukosit polimorfonuklear (PMN)/neutrofil
Neutrofil bekerja dengan cara fagositosis langsung terhadap parasit. Aktifitasnya akan meningkat jika dirangsang oleh sitokin IFN-γ dan IFN-α yang dihasilkan oleh makrofag dan limposit T helper. Neutrofil dan fagositik lainnya membunuh parasit dengan cara mengeluarkan radikal bebas baik yang O2 dependent seperti superoksid ataupun yang O2 independent seperti nitrit oksid.
c.     Sitokin
TNF-α, IL-1, IL-2, IL-4, IL-6, IL-8, IL-10, IL-12 adalah sitokin-sitokin yang berperan aktif menghambat pertumbuhan parasit (sitostatik), maupun membunuh parasit (sitotoksik), atau berfungsi sebagai faktor pertumbuhan bagi sel-sel efektor sistem imun lainnya.
d.   Komplemen
Protein ini bekerjasama dengan antibodi untuk mengopsonisasi eritrosit yang terinfeksi parasit, karena kadarnya akan menurun sesuai beratnya penyakit. Pada malaria komplemen terutama diaktifkan secara jalur klasik.
e.     Limpa
Organ ini diduga merupakan tempat utama dan terpenting dalam perlindungan terhadap malaria. Limpa mempunyai beberapa fungsi yaitu tempat filtrasi eritrosit yang terinfeksi parasit, filtrasi eritrosit yang mengalami deformitas dan eritrosit yang terkait dengan antibodi beserta komplemen untuk selanjutnya dirusak oleh makrofag. Selain itu limpa juga tempat untuk mempertemukan antigen parasit dengan sistem imun, dan diduga limpa adalah tempat utama pengaturan sisitem imun untuk menentukan komponen imunitas mana yang diaktifkan misalnya pengaktifan subset limfosit Th1 atau Th2.
f.     Sel NK
Sel ini juga mempunyai fungsi fagositosis eritrosit yang terinfeksi parasit. Aktifitasnya akan diperkuat oleh sitokin IL-2 dan IFN-γ serta antibodi melalui mekanisme ADCC (Antibodi dependent cellular cytotoxicity).
3. Imunitas Spesifik (Acquered Immunity)
Pertahanan atau imunitas spesifik merupakan sistem pertahanan organisme yang paling utama terhadap infeksi plasmodium (parasit malaria), tetapi timbulnya belakangan karena memerlukan sistem pengingat dengan mekanisme kerja yang lebih rumit, bersifat tidak menetap, lambat, dan bersifat jangka pendek. Imunitas spesifik diperankan oleh limposit T untuk imunitas seluler dan limposit B untuk imunitas humoral.
 
Tanggapan sistem imun spesifik terhadap infeksi malaria mempunyai beberapa ciri khusus yaitu spesies spesifik, strain spesifik, dan spesifik terhadap stadium siklus parasit.
a.       Spesies spesifik
Penderita yang pernah terinfeksi Plasmodium vivax masih dapat terinfeksi oleh Plasmodium falciparum, namun tahan terhadap infeksi ulang dengan Plasmodium vivax. Hal ini menunjukkan bahwa imunitas malaria bersifat spesifik. Namun hasil penelitian di Vanuatu dan Thailand menunjukkan  kemungkinan adanya imunitas silang antara Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum, dimana infeksi Plasmodium vivax di masa kanak-kanak akan menimbulkan respon imun yang kelak akan dapat melindungi terhadap malaria berat jika terinfeksi Plasmodium falciparum (Protektif parsial).
b.      Strain/varian spesifik.
Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa antibodi dari suatu penduduk hanya dapat mengaglutinassi bentuk varian parasit tertentu dan umumnya tidak dapat bereaksi silang dengan parasit dari varian lain. Hal ini berarti seseorang yang pernah terinfeksi dengan suatu strain plasmodium akan kebal bila dipaparkan ulang dengan strain homolog, akan tetapi jika dipaparkan dengan strain heterolog akan terjadi infeksi meskipun lebih ringan

c.       Spesifik terhadap stadium siklus hidup parasit (stage spesific)
Respon imun yang muncul pada setiap stadium dari infeksi plasmodium berbeda-beda. Kekebalan yang terbentuk pada stadium sporozoit atau merozoit tidak memberi kekebalan pada stadium gametosit, demikian pula sebaliknya. Stage specific timbul karena plasmodium menghasilkan antigen yang berbeda-beda pada setiap stadium yang selanjutnya akan merangsang produksi antibodi spesifik atau mengaktifkan komponen imunitas selular yang beragam juga. Diperkirakan pada fase aseksual saja dihasilkan sekitar 2000 antigen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar