Malaria merupakan penyakit sistemik yang
disebabkan oleh parasit jenis protozoa dari genus plasmodium yang secara
alamiah ditularkan lewat gigitan nyamuk anopheles betina. Penyakit ini masih
merupakan masalah kesehatan dunia, terutama di negara sedang berkembang yang
beriklim tropis dan subtropik seperti Indonesia. Saat ini ada 5 jenis plasmodium yaitu Plasmodium
vivax menyebabkan penyakit “Malaria tertiana
benigna” atau disebut malaria tertiana timbulnya gejala demam terjadi setiap 48
jam, Plasmodium malariae
menyebabkan penyakit “Malaria quartana” dengan
terjadinya krisis penyakit setiap 72 jam, Plasmodium ovale menyebabkan penyakit
“malaria tertiana ringan” dan merupakan
parasit malaria yang paling jarang pada manusia, Plasmodium falciparum mengakibatkan malaria
falsiparum, penyakit yang disebabkan oleh spesies ini
disebut juga “Malaria tertiana maligna” adalah merupakan penyakit malaria yang
paling ganas yang menyerang manusia karena malaria yang ditimbulkannya dapat
menjadi malaria yang berat (malaria serebral dengan kematian) sebab dalam waktu
singkat dapat menyerang eritrosit dalam jumlah besar, sehingga menimbulkan
berbagai komplikasi di dalam organ-organ tubuh. Plasmodium knowlesi yang terakhir ditemukan sebagai
spesies plasmodium terbaru ditemukan pada manusia. Berdasarkan
data WHO (2000), penduduk dunia yang beresiko terkena malaria sekitar 2,3
miliar atau 41% dari penduduk dunia dan setiap tahun jumlah kasus malaria
berjumlah 300-500 juta yang mengakibatkan 1,5-2,7 juta kematian. Oleh karena
itu WHO memasukkan malaria menjadi salah satu penyakit Emerging Infectious Diseases (EID) yang perlu diwaspadai dan
ditanggulangi secara seksama.
Patogenesis
Malaria
Patogenesis malaria akibat dari
interaksi kompleks antara parasit, inang dan lingkungan. Patogenesis lebih
ditekankan pada terjadinya peningkatan permeabilitas pembuluh darah daripada
koagulasi intravaskuler. Oleh karena skizogoni menyebabkan kerusakan eritrosit
maka akan terjadi anemia. Beratnya anemi tidak sebanding dengan parasitemia
menunjukkan adanya kelainan eritrosit selain yang mengandung parasit. Hal ini
diduga akibat adanya toksin malaria yang menyebabkan gangguan fungsi eritrosit
dan sebagian eritrosit pecah melalui limpa sehingga parasit keluar. Faktor lain
yang menyebabkan terjadinya anemia mungkin karena terbentuknya antibodi
terhadap eritrosit.
Limpa mengalami pembesaran dan
pembendungan serta pigmentasi sehingga mudah pecah. Dalam limpa dijumpai banyak
parasit dalam makrofag dan sering terjadi fagositosis dari eritrosit yang
terinfeksi maupun yang tidak terinfeksi. Pada malaria kronis terjadi hyperplasia
dari retikulosit diserta peningkatan makrofag..
Pada malaria berat mekanisme
patogenesisnya berkaitan dengan invasi merozoit ke dalam eritrosit sehingga
menyebabkan eritrosit yang mengandung parasit mengalami perubahan struktur dan
biomolekular sel untuk mempertahankan kehidupan parasit. Perubahan tersebut
meliputi mekanisme, diantaranya transport membran sel, Sitoadherensi,
Sekuestrasi dan Resetting..
Sitoadherensi merupakan
peristiwa perlekatan eritrosit yang telah terinfeksi P. falciparum pada
reseptor di bagian endotelium venule dan kapiler. Selain itu eritrosit juga
dapat melekat pada eritrosit yang tidak terinfeksi sehingga terbentuk roset. Resetting
adalah suatu fenomena perlekatan antara sebuah eritrosit yang mengandung
merozoit matang yang diselubungi oleh sekitar 10 atau lebih eritrosit non
parasit, sehingga berbentuk seperti bunga. Salah satu faktor yang mempengaruhi
terjadinya Resetting adalah golongan darah dimana terdapatnya antigen golongan
darah A dan B yang bertindak sebagai reseptor pada permukaan eritrosit yang
tidak terinfeksi.
Menurut pendapat ahli lain, patogenesis
malaria adalah multifaktorial dan berhubungan dengan hal-hal sebagai
berikut:
1. Penghancuran eritrosit
Fagositosis tidak hanya pada eritrosit
yang mengandung parasit tetapi juga terhadap eritrosit yang tidak mengandung
parasit sehingga menimbulkan anemia dan hipoksemia jaringan. Pada hemolisis Intravascular
yang berat dapat terjadi hemoglobinuria (Black White Fever) dan
dapat menyebabkan gagal ginjal.
2. Mediator endotoksin-makrofag.
Pada saat skizogoni, eritrosit yang
mengandung parasit memicu makrofag yang sensitif endotoksin untuk melepaskan
berbagai mediator. Endotoksin mungkin berasal dari saluran cerna dan parasit
malaria sendiri dapat melepaskan faktor nekrosis tumor (TNF) yang merupakan
suatu monokin, ditemukan dalam peredaran darah manusia dan hewan yang
terinfeksi parasit malaria. TNF dan sitokin dapat menimbulkan demam,
hipoglikemia, dan sindrom penyakit pernapasan pada orang dewasa.
3. Sekuestrasi eritrosit yang terluka
Eritrosit yang
terinfeksi oleh Plasmodium dapat membentuk tonjolan-tonjolan (knobs)
pada permukaannya. Tonjolan tersebut mengandung antigen dan bereaksi dengan
antibodi malaria dan berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung
parasit terhadap endothelium kapiler alat dalam, sehingga skizogoni berlangsung
di sirkulasi alat dalam. Eritrosit yang terinfeksi menempel pada endothelium
dan membentuk gumpalan yang mengandung kapiler yang bocor dan menimbulkan
Anoksia dan edema jaringan.
Patofiologi
Malaria
Sporozoit pada fase eksoeritrosit bermultiplikasi
dalam sel hepar tanpa menyebabkan reaksi inflamasi, kemudian merozoit yang
dihasilkan menginfeksi eritrosit yang merupakan proses patologi dari penyakit
malaria. Proses terjadinya patologi malaria serebral yang merupakan salah satu
dari malaria berat adalah terjadinya perdarahan dan nekrosis di sekitar venula
dan kapiler. Kapiler dipenuhi leukosit dan monosit, sehingga terjadi sumbatan
pembuluh darah oleh roset eritrosit yang terinfeksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar