Mekanisme Kerja Sistem
Imun Terhadap Infeksi Malaria
Mekanisme imun dan antigen yang berperan pada
masing-masing stadium hidup parasit adalah:
1)
Stadium
aseksual eksoeritrositik
Stadium aseksual
eksoeritrositik terdiri atas dua stadium, yaitu:
a. Stadium
sporozoit/stadium eksoeritrositik ekstrahepatal
Respon imun yang muncul pada tahap ini
berupa antibodi yang berfungsi untuk menghambat masuknya sporozoit ke
hepatosit. Antibodi membunuh sporozoit melalui mekanisme opsonisasi, sebagai
salah satu bentuk respon imun yang muncul karena adanya rangsangan dari
antigen. Sporozoit dikenal sebagai antigen atau benda asing. Beberapa antigen
penting pada stadium ini adalah Circum
Sporozoit Protein (CSP), Sporozoite
Threonin and asparagin Rich Protein (STARP), Sporozoite and liver stage antigen (SALSA), Plasmodium falciparum sporozoite surface protein-2 (SSP-2 Trombospondinrelated Animous Protein
(TRAP)).
b. Stadium
hati/ stadium eksoeritrositek intrahepatik
Respon imun pada stadium ini dilakukan
oleh limposit T CD8+ yang membunuh hepatosit yang terinfeksi plasmodium baik
itu langsung maupun tidak langsung dengan mengaktifkan parasit intraseluler
melalui sitokin. Aktifasi Sel T CD8 ini berperan menghambat aktivitas sitolitik
dalam mengekspresikan antigen, untuk melisiskan hepatosit yang terinfeksi
parasit baik langsung maupun tidak langsung dengan mengaktifkan parasit
intraseluler melaui sitokin atau faktor lainnya, memproduksi IFN γ, dan
aktifasi hepatosit untuk memproduksi Nitrit Osida serta zat-zat lain yang dapat
membunuh parasit..
Fase hepatik dari plasmodium terjadi
ketika sporozoit masuk ke dalam parenkim hati. Sporozoit yang masuk dalam
parenkim hati akan melekat pada lapisan endotel sinusoid hati karena adanya
interaksi protein pada permukaan sporozoit (Circum
Sporozoit/CSP dan Trombospondinrelated
Animous Protein/TRAP) dengan matrik ekstraseluler berupa proteoglikan.
Selain itu CSP dan TRAP juga berfungsi sebagai pergerakan dan infeksi inang.
Jika mampu melekat pada endotel sinusoid hati, sporozoit bergerak ke
endothelium lalu melewati dan menembus sel kupler untuk mendapatkan akses ke
hepatosis.
Imunoprotektif dalam sel hati diawali
oleh sistem γ-spz dengan molekul Toll-Like
Receptor (TLR), termasuk sel kupffer. Sebelum melakukan invasi ke
hepatosit, sporozoit memasuki sel kupffer. Sel kupffer yang terpapar akan
memproduksi IL-10. Selama 6 jam setelah pemaparan γ-spz, diikuti produksi dan
peningkatan kadar IL-12. IL-12 mulai jelas terlihat sejak diiringi respon sel T
CD8 pada stadium ini. Kaskade sitokin inflamatori dilepaskan sejak meningkatnya
peran imunitas bawaan yang diinduksi oleh γ-spz menyebabkan inflamasi lokal.
Keadaan ini ditangkap sebagai sinyal bahaya dan potensial menginduksi imun
adaptif.
Karakter molekul sporozoit juga
mempengaruhi proses internalisasi sporozoit ke dalam sel kupffer, menentukan
posisi sporozoit di intraseluler. Internalisasi sporozoit dimungkinkan akibat
terjadinya fusi kedua membran sehingga parasit memposisikan diri dalam vakuola. Jumlah sel T CD8 yang berlebih menjadi kunci efektor dalam
mediasi efek protektif fase pre-eritrositik dan menjadi landasan vaksinasi
seperti RTSS. Peran sel T CD8 diperlukan sebagai inductor, stimulator, dan pemeliharaan
memori imunologis, spesitas antigen, serta target antigen.
Selain itu, respon imun yang muncul pada
stadium eksoeritrositik intrahepatal adalah antibodi yang berfungsi membunuh
hepatosit terinfeksi atau menginaktifkan plasmodium setelah berikatan dengan
komplemen atau ADCC. Antigen penting pada stadium ini adalah Liver-Stage Antigen 1 (LSA-1), LSA-2,
dan LSA-3. Sebelum masuk ke dalam sirkulasi darah, hati masih berusaha
melakukan upaya protektif melalui Liver-Stage
Antigen 1 (LSA-1). Rangkaian peristiwa ini dimungkinkan melalui ekspresi Liver-Stage terhadap antigen plasmodia
yang melibatkan respon sel B dan T spesifik LSA-1 peptida. Peptida LSA-1
pertama kali dikenal berperan sebagai protektif pada manusia di Gambia melalui
peptide 1s6-LSA-1 yang berfungsi sebagai respon CTL pada individu dengan
pasangan alel HLA-B-53.
Hal ini menunjukkan asosiasi antara
malaria ringan dengan ekspresi HLA-B-53, diduga direstriksi melalui peran
B53-LSA-1 CTL spesifik dan protektif sehingga tidak berkembang menjadi malaria
berat. Respon protektif berlangsung lebih I dari 6 bulan yang terjadi atas
peran peptide LSA-1 dan sel T CD8 memproduksi IFN γ. Sel T CD8 CTL juga
mengenal peptide lain antigen eksoeritrositik termasuk liver stage antigen-3
(LSA-3), Sprozoite and liver stage antigen (SALSA), dan STARP antigen..
2)
Stadium
aseksual eritrositik
Sporozoit
yang mampu menembus respon imun dalam sel hati selanjutnya akan tumbuh menjadi skizon
dan berkembang menjadi merozoit. Sebuah sporozoit bisa memproduksi 10.000 sampai
30.000 merazoit. Hati yang membengkak akan pecah dan merozoit
keluar dengan bebas, sebagian mengalami fagositosis. Oleh
karena prosesnya terjadi sebelum memasuki eritrosit maka disebut stadium pre-eritrositik atau ekso-eritrositik.
Antibodi
pada stadium ini berfungsi untuk aglutinasi merazoit sebelum rupturnya skizon
matang, menghambat masuknya merazoit ke dalam eritrosit, dan membunuh eritrosit
yang terinfeksi baik secara langsung melalui opsosinasi kemudian di fagosit
maupun tidak langsung melalui mekanisme ADCC, antibody yang menghambat
sitoadherens dengan memblok reseptor untuk perlekatan ligand, antibodi yang
menghambat pelepasan atau menetralkan toksin yang dihasilkan plasmodium. Jika mampu
melewati antibodi pada stadium ini maka beribu-ribu merazoit akan dilepaskan.
Hal ini merupakan awal stadium eritrosit.
Pada
fase eritrosit, respon imun yang berperan adalah sel T CD4+ yang membunuh
plasmodium intraeritrosit melalui sekresi sitokin yang selanjutnya akan
mengaktifkan fagosit. Stadium eritrositik dimulai saat merozoit menerobos masuk ke
sel-sel darah merah, terjadi multiplikasi 6 sampai 20 kali lipat setiap 48-72
jam. Merazoit yang masuk dalam eritrosit akan berubah menjadi tropozoit dibantu
oleh reseptor permukaan eritrosit yang spesifik. Parasit tampak sebagai
kromatin kecil dikelilingi oleh sitoplasma yang membesar, bentuk tidak teratur,
dan mulai membentuk tropozoit. Tropozoit
berubah menjadi skizon muda, kemudian berkembang menjadi skizon matang
dan membelah diri menjadi beberapa merozoit. Dengan selesainya
pembelahan tersebut sel darah merah pecah, pigmen dan sisa sel keluar, bebas
berada dalam plasma darah. Merozoit dapat masuk sel darah merah lainnya
untuk mengulangi siklus skizogoni. Selain dapat memasuki eritrosit kembali dan
membentuk skizon, merozoit juga membentuk gametosit (bentuk
seksual parasit plasmodium). Antigen penting pada fase
eritrosit ini meliputi Pf-155/Ring Eritrocyte Surface Antigen (RESA), Histidin
Rich Protein-1 (HRP-1), Pf-EMP-1, Pf-EMP-2, Pf-EMP-3, HSP-70, dan SERA
Masih
dalam fase eritrosit, jika imun seluler belum mampu membunuh plasmodium maka
akan dibasmi dengan respon imun humoral (komponen utama berupa sel B). Melalui
mekanisme opsonisasi, lisis ataupun netralisasi limposit B mengeliminasi
parasit dari dalam tubuh yang berada di luar sel dengan membentuk berbagai
macam immunoglobulin juga dengan bantuan sitokin yang dihasilkan oleh sel Th2
dan sel-sel efektor. Aktivasi Sel T CD4 Th2 inilah yang
membangkitkan respon imun humoral (Sel B).
Antibodi antimalaria
diproduksi langsung oleh sel B, namun tetap dengan pengaturan dari sel T (“T regulated process”). Aktifasi sel B disebabkan karena reaksi terhadap
beberapa eksoantigen plasmodium terlarut yang umumnya berupa glikolipid. Respon
sel B diatur terutama oleh sel T melalui sitokin IL-2. Antibodi yang dihasilkan
sel B adalah IgM dan IgG (IgG1, IgG3, IgG4, dan IgE). Antibodi yang dihasilkan
sebagian besar merupakan IgM. Banyak dari antibodi-antibodi ini tidak memiliki
efek perlindungan (antibodi spesifik/non-spesifik non protektif) karenanya
disebut antibodi sampah.
Cara
lain produksi antibodi antimalaria dihasilkan setelah terjadi pertemuan dan
ikatan antara limfosit B dengan limfosit T (T
dependent B cell response). Mekanisme diawali dengan ikatan antara beberapa
protein plasmodium seperti Pf 155/RESA, gp 195, MSA-2 dengan reseptor sel B
yaitu suatu membran Ig (mIg), selanjutnya dengan berperan sebagai sel penyaji
antigen sel B akan berinteraksi secara fisik dengan sel T CD4+ melalui ikatan
dengan reseptor sel T. Sel T akan berdeferensiasi menjadi Th2 dan mensekresikan
IL-4 dan IL-5 yang akan memacu sekresi IgG1, IgG2, IgG3, IgG4, dan Ig E, Ig M
oleh sel B. IgG1 dan IgG3 akan berikatan dengan reseptor FcγRI dan FcγRII pada
monosit dan makrofag yang akan meningkatkan kemampuan fagositosisnya terhadap
eritrosit yang terinfeksi plasmodium. Adapun peran Ig E dan IgG M dalam
perlindungan terhadap infeksi plasmodium belum jelas, namun diduga Ig E
antimalaria berperan patologis menimbulkan malaria berat dengan meningkatkan
produksi TNF..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar