Peran
Sistem Imun Pada Malaria Berat
Patofisiologi pada
malaria berat khususnya pada infeksi plasmodium
falcifarum sampai sekarang belum diketahui. Beberapa hipotesa menyatakan
bahwa penyebabnya multifaktorial meliputi faktor virulensi parasit berupa
kemampuan parasit untuk menghasilkan toksin proteolitik yang sangat kuat
sehingga dapat memacu produksi TNF dalam jumlah besar atau pada kemampuan
parasit untuk sekuesterisasi dan pembentukan roset. Faktor lain adalah jamu
(host) misalnya polimorfisme gen promoter TNFα masing-masing individu yang
menentukan banyak sedikitnya produksi TNF bila ada stimulasi infeksi, sebagai contoh
bentuk bialelik gen promoter TNF dengan penggantian basa nukleotida guanin
dengan adenin pada posisi 308 dari tempat mulainya transkripsi (308 g a) akan beresiko 4 kali lebih besar menderita
malaria serebral dengan resiko mortalitas 7 kali lebih besar dibandingkan
kelompok kontrol.
Faktor imunologis
berupa adanya antibodi (IgG dan IgM) dapat membunuh plasmodium atau menetralkan
toksinnya (antiparasitic dan antidisease imunity) sehingga dapat
membatasi produk TNF, atau adanya antibodi yang membatasi sekuestrasi
plasmodium, dan antibodi yang menghambat pembentukan roset akibat infeksi (antibodi
anti-roset)
Hambatan Sistem Imun Dalam Perlawanan Terhadapn Infeksi Plasmodium
Perlawanan sistem imun
tubuh terhadap infeksi plasmodium sering mengalami kegagalan atau tidak
efektif. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Imunological
smokescreen (“Tirai Asap Imunologis”)
Banyaknya ragam antigen yang dihasilkan
plasmodium akan memicu sistem imun nonspesifik, hal ini justru akan menghambat
pengaktifan respon imun spesifik yang sebenarnya lebih poten membunuh
plasmodium. Sehingga respon imun utama terlambat terbentuk dan infeksi akhirnya
berkembang cepat.
2. Keanekaragaman
Antigen (antigenic diversity)
Pada Plasmodium terdapat variasi alel
ganda dimana suatu antigen dapat dihasilkan dari gen-gen yang berbeda hingga
menimbulkan polimorfisme (terdapat 2 atau lebih alel pada suatu lokus di
kromosom yang tidak disebabkan oleh suatu mutasi, hingga dapat menghasilkan
struktur antigen yang berbeda-beda). Contohnya penelitian di Asar (Sudan)
ditemukan susunan antigen MSP-1 dan MSP-2 yang berebeda mencerminkan perubahan
alel yang mengkode produksi antigen tersebut. Hal ini mengakibatkan parasit
varian akan lolos dari deteksi sistem imun dan dapat menghambat respon imun
alamiah.
3. Variasi
Antigen
Merupakan bagian dari antigenic diversity, terjadi karena ada
sesuatu gen yang dapat mengkode bermacam-macam antigen, sebagai contoh Plasmodium falciparum memiliki satu
keluarga besar gen (gen Var) yang akan mengkode bermacam-macam antigen yang
bervariasi dan umum disebut family Pf-EMP-1. Ekspresi gen yang berbeda akan
menghasilkan perubahan bentuk antigen, hingga mengakibatkan parasit dapat lolos
dari deteksi system imun berhubung respon imun baik sel B, CD4+, CD8+ yang
mengenali target suatu antigen tertentu akan menjadi tidak efektif terhadap
bentuk antigen variannya
Imunomodulator Antimalaria
Imunomodulator
merupakan zat atau senyawa termasuk obat yang dapat memodulasi system imun.
Imunomodulasi yaitu cara untuk mengembalikan dan memperbaiki system imun yang
terganggu fungsinya. Imunomodulator dapat bertindak sebagai penekan system imun
untuk system imun yang fungsinya berlebihan atau untuk memacu kerja system imun
untuk system imun yang kurang fungsinya. Mekanisme kerja obat golongan
imunomodulator ada 3 yaitu imunoretorasi, imunostimulasi, dan imusupresi.
Pemberian zat-zat
imunomodulator misalnya vitamin A dosis tinggi, ekstrak tanaman yang mengadung
flavonoid, the hijau, dan obat-obatan tertentu dapat meningkatkan respon imun
seluler dan humoral hospes terhadap infeksi malaria. Selain itu, respon imun
hospes terhadap infeksi malaria juga dipengaruhi oleh kualitas makanan yang
dikonsumsi.
Salah satu merk produk komersial yang membantu perbaikan sistem imun adalah Stimuno untuk balita/anak dan forte untuk dewasa. Sebagai imunomudulator, stimuno memiliki Kontraindikasi, yakni stimuno jangan (tidak boleh) diminum oleh wanita hamil, ibu menyusui, pasien dengan hipersensitivitas terhadap tanaman meniran (Phyllanthus niruri) dan pasien yang menderita penyakit autoimun.
BalasHapus